Daily Life
Selamat memasuki purna tugas, bapah…
January 12, 2018
11
,

Senyum bapak di pernikahan borunya

Hari ini tepat hari terakhir bapak di sekolah SMP Negeri 1 Simanindo, memasuki masa pensiun diusia 60 tahun menjadi guru. Ngajar dari tahun 1982. Secara sah kami semua satu rumah anak murid bapak, include mamak. Mungkin ini mirip-mirip sinetron guru yang jatuh cinta dengan murid nya, tetapi terjadi di dunia nyata. πŸ˜€

Bapak ngajar PKn / PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) saat era kami dulu. Jika dingat kembali aku seakan baru tahun lalu diajari bapak, tapi ternyata udah sekitar 14 tahun lalu. Memiliki bapak seorang guru kala itu menjadi hal yang paling menakutkan apalagi kalau ngga berprestasi. Malu rasanya. Bahkan kalau di sekolah saking segannya sama bapak, gimana siswa lain berperilaku dan hormat sama bapak akupun ikut-ikutan. Mungkin jika orang yang tidak kenal melihatnya, seakan aku memang bukan anak bapak. wkwkwkwkwk.

Di sekolah, bapak dikenal sebagai guru yang super tegas, kalau ada yang bilang kejam mungkin aku bukan salah satu yang mengalaminya karna aku ngga pernah cari masalah πŸ˜€ . Paling tegas sama siswa yang bolos, merokok, ngga rapi, rambut cowok yang panjang, bandal, terlambat. Beberapa kali ketemu sama murid bapak yang udah senior, pasti mereka akan menceritakan sedikit tentang masa sekolah dulu yang bahkan pernah dipukul. Dan ditutup dengan ucapan “Untunglah dipukul bapak itu dulu aku, kalo ngga dipukul mungkin ngga kek gini aku sekarang”. Disini artinya orang yang menyampaikan ini sudah jadi orang. Definisi jadi orang disini adalah sudah jadi orang yang berguna. Siswa bapak yang menyampaikan ini ada yang kirim message dari facebook dan mengatakan langsung saat bertemu.

Bapak Manortor sama mamak

Bapak sering dipanggil dengan Pak Karokaro atau Pak SK (Sabar Karokaro). Dibilang Pak SK, dari kelas 1 sampe kelas 3 kenal lah yah. Apalagi kalo sudah menjaga gerbang sekolah menunggu siswa yang terlambat πŸ˜€

Ada yang ingat disaat bapak ngajar, sering tidak bawa buku? Aku masih menyaksikan ini. Setiap masuk ngajar, bapak paling jarang bawa buku karena semua udah dihafal di dalam kepala. Bapak bisa mengingat semua materi pelajaran dan mendikte apa yang ingin disampaikan. Sometimes, aku iri akan kemampuan mengingat bapak.

Untuk cewek-cewek masih ingat dengan rambut yang diikat dengan karet atau sapu ijuk? Aku mengalami ini, setiap bapak masuk semua cewek harus mengikat rambut dan telinga harus terlihat. Katanya kalo bapak menjelaskan supaya langsung kedengaran dan ngga sibuk pegang-pegang rambut selama jam pelajaran. Aku juga mendengar cerita ini dari alumni-alumni yang lain.

Ada yang pernah di hukum berdiri di atas kursi? Atau berdiri di pojokan? Aku sih belum pernah lihat dan belum ngalamin tapi aku sempat baca digroup alumni SMP beberapa dari mereka bersenda gurau pernah dihukum begitu. Jadi untuk orang tua yang di zaman ini sering ngaduin guru yang mukul anaknya, untunglah ngga lahir di era zaman dulu. Bisa-bisa polisi sibuk semua nangkap guru. Kalo kami dulu dipukul pake belebas (penggaris) yang panjang itu, pake tali sapu, pake penghapus kapur kayu itu masih hal yang wajar supaya muridnya berubah dan tau tujuan guru melakukan itu untuk hal yang baik. Tapi untungnya, aku tak pernah mendapat hukuman itu selama aku TK-SMA kecuali dipukul kukunya dengan penghapus reasonnya karna panjang kuku. πŸ˜€

Coba sekali ngantar surat ke kampung kami, alamat dan nomor rumah ngga ada, tanya aja Pak Karokaro pasti surat atau paketnya sampai karna bapak terkenal dikalangan anak-anak murid. Jadi jangan sungkan kirim kado. πŸ˜›
Kampung itu sudah jadi tempat bapak merantau dari muda sampai akhirnya menemukan jodoh dan membesarkan kami disana. bayangkan saja sejak tahun 1980an. Dan kami pun anak-anak bapak jadi paten berbahasa Batak Toba.

Saat bapak dan mamak ngasih ulos hela

Ngomongin tentang Pak SK, mungkin kamu hanya mengalami sedikit dari sisi tegas nya bapak. Kami berempat, anak tante dan adek-adeknya mamak mungkin mengalaminya. Bukan hanya kami, ada juga anak-anak sekolah yang dulu tinggal bareng keluarga kami (ini cerita bapak). Kami mendapat perlakuan yang sangat tegas dari bapak tanpa membedakan anak siapa.

Saat aku masih mau memasuki TK dan masuk nol kecil, kami ngontrak di Siallagan. Mungkin tetangga sudah sangat familiar ketika jam 6 sore bapak bilang “Pen, In, Nen, masuk”. Itu adalah panggilan untukku dan abangku supaya masuk ke rumah. Dan ngga boleh sampai 3x manggil.

Saat sudah SD, bapak sudah bawa kami ke sawah, aku ingat ketika itu kelas 3 SD dan aku langsung menuju ke galung (di sekitaran bawah Desa Garoga). Kami semua anak-anak bapak dibawa nanam padi, mencangkul sawah di lumpur. Walaupun ketika itu aku belum pemeran utama untuk melakukan itu. Tapi aku sudah ingat untuk melakukan itu.

Masih SD, saat onan (pasar pagi) di Labuhan Ambarita, aku dan abangku masing-masing menjunjung 1 ember yang berisi tomat untuk dijual mamak di pasar. Dan setelah mengantar tomat, baru kami langsung ke sekolah. Dan ini kami lakukan 2 kali dalam seminggu.

Masih SD dan SMP, sepulang sekolah bapak udah bawa kami ke ladang untuk mencangkul dan banyak yang kami tanam, berganti musim dan tahun mulai dari tomat, cabai, bawang, jahe, jagung, terong. Siap dengan cangkul masing-masing, mulai dari menanam bibit, menyiangi sampai akhirnya berbuah. Ini aktifitas rutin yang selalu kami lakukan selain melakukan pekerjaan rumah dan sekolah. Sesekali ikut mamak menjaga kios biar ngga usah ke ladang atau menjaga adekku si Nessa yang masih kecil ketika itu. Setelah tanaman kami berbuah, ada yang dijual langsung ke toke dan sebagian lagi diecer. Untuk menjajakan dagangan kami, kami menggunakan beko (gerobak sorong artco) dan biasa kami melakukan ini sampai ke Siallagan dan Ambarita (2-3km jaraknya dari rumah). Jangan heran tangan kami sekeluarga kasar ketika itu.

Tak hanya itu, biasanya bapak juga menanam mentimun di sebelah rumah. Ini jadi bonus kalau misalnya kami menyiram tanaman ini sampai berbuah, hasil penjualannya bisa jadi uang jajan kami atau ditabung. Bapak juga memelihara banyak ayam. Kami bisa makan telur ayam kampung sepuasnya. Dan bisa juga dijual nambah-nambah uang jajan dan beli buku ketika itu.

Zaman SMP, aku dan abangku berganti-gantian menyiangi rumput-rumput padi. Setelah padi mulai bermunculan kami mulai menjaga burung sawah. Ini akan terjadi beberapa bulan sampai padi bisa dipanen. Ketika itu, aku merasa ini penderitaan paling lama karena mulai pulang sekolah aku udah harus di sawah sampai matahari terbenam. Berangkat ke sekolah aku langsung membawa bekal siang supaya langsung ke sawah tanpa harus pulang terlebih dahulu. Lengkap dengan membawa pakaian ganti. Berjalan kaki ke galung kurang lebih 3km. Saat itu karena masih minimnya kendaraan bermotor aku akan menuju ke lokasi dengan teman-teman yang rumahnya searah. Habislah mukaku menghitam selama menjaga sawah, dekil bak gadis kampung yang kulitnya sangat gersang.

Masa SMA, kedua abangku sudah kuliah dan lengkap sudah semua pekerjaan harus aku yang menyelesaikannya. Bapak memelihara ikan mas di sawah dan hampir tiap hari aku harus memberi makan ikan ini. Harus melewati sawah yang basah. Dan tak jarang ada pacat-pacat (pacet atau lintah) berlalu lalang disana. Aku yang sangat takut hewan penghisap darah itu seakan berusaha untuk menghindar dan tak jarang tetap menempel di kakiku. Dan berakhir dengan teriak dan melompat-lompat walau aku tau tidak ada orang yang melihat dan hanya aku yang bisa menolong diriku sendiri.

Masih zaman SMA dan ini menjelang UN, bapak memelihara banyak bebek. Ini hal yang paling membuatku stress, you know why? Bayangkan saja aku harus menjaga puluhan ekor bebek dilepaskan di sawah nan luas yang sudah selesai di panen. Bebek ini sengaja di lepas supaya bisa mencari keong karena bebek akan berkembang dengan cepat jika makan keong. Mungkin untuk kamu yang tau lokasi ini, kamu hanya akan terheran-heran ketika bebek yang aku jaga lari dari Garoga sampai ke aliran sungai di Torjang. Kira-kira sejauh apa kah itu? Dan aku harus mengikuti bebek-bebek ini karena sebagian terbawa arus dan sebagian lagi ntah kemana. Anehnya lagi saat menjaga bebek, satu ekor terpisah yang lain akan ngikut.

Sepulang sekolah, bapak udah bilang supaya aku bantu-bantu cari keong di sawah orang untuk dikasih ke bebek. Dan begitulah beberapa lama. Ketika itu, mau nangis rasanya. Tetapi terbayar ketika pagi hari aku datang mengunjungi kandang bebek yang sekitar 4km itu jauhnya dari rumah dihiasi telur-telur bebek yang masih putih. Aku seakan mendapatkan banyak emas-emas putih yang tinggal pungut dan bawa pulang. Puluhan telur bisa aku dapatkan tiap hari, bukan masalah seberapa banyak yang bisa dijual tapi seberapa banyak yang bisa aku makan. πŸ˜€

Jika mengingat kembali masa saat aku masih bekerja di rumah, kadang aku merasa aku kurang banyak menghabiskan waktu bermain. Jadi anak rumahan namun tak jarang rumah kami adalah tempat berkumpul dan teman-teman pada datang ke rumah. Apalagi ketika itu masih jarang ada yang pakai parabola, biasanya masih TVRI aja. Tapi untunglah anak bapak tetap bisa ngikutin pelajaran di sekolah.

Kalau kamu bisa menghafal banyak film anak-anak, kami hanya bisa menonton jam 7-9 malam ketika itu. Selebihnya curi-curi kalau bapak lagi ngga di rumah. Lebih dari situ ngga ada yang bisa membangkang untuk merengek-rengek bisa nonton. HARUS belajar, termasuk sabtu minggu.

Kalau kamu biasanya dikasih uang jajan, not for us. Bapak ngga membiasakan kami untuk jajan apalagi ke sekolah. Katanya harus makan, walaupun memang pada akhirnya jadi sering juga ngga makan dari rumah karena terlambat. πŸ˜€ . Biasanya ada penjual eskrim atau kue basah (kukek kukek kami menyebutnya) yang lewat dan kami ngga bisa merengek-rengek minta dibeliin karna bapak paling tau kapan akan membelikan kami jajan atau tidak.

Ini acara pagi sebelum berangkat ke gereja

Arti tatapan itu sangat kami pahami sampai saat ini, satu tatapan tajam dari bapak sangat mengandung arti yang sangat dalam. Saat bepergian kemana-mana kan biasa ada penjual yang mendekat-dekati untuk dibeli gitu, seperti permen atau mainan. Digoda-goda “mau dek, bilang sama bapaknya biar dibeli” kan sering gitu, tapi dari tatapan bapak aku bisa tau itu artinya bisa atau nggak. Ngga cuma itu, disaat ada tamu yang lagi datang ke rumah, kami anak-anak bapak udah tau duduk manis dan sopan. Kalau anak-anak sekarang masih ada yang gitu ngga sih? Atau udah lasak semua? Dulu tak jarang tamu yang berkunjung itu ngasih duit dan dari tatapan bapak aku sudah tau itu artinya boleh minta atau ngga.

Mungkin untuk sebagian orang, ini kehidupan yang sulit. Tapi seiring berjalannya waktu aku semakin paham akan semua hal yang bapak ajarkan. Sesekali aku hanya bisa tertawa mengingat kejadian saat kecil dulu, tapi ini pelajaran hidup paling berharga yang membentuk karakterku saat ini. Semua dimulai dari keluarga.

Aku belajar kalau hidup ini ngga mudah, kalau mau dapat reward ya kerja. Bapak selalu bilang, jangan sombong walaupun anak guru. Karna guru pun ngga berduit juga. hahahaha. Jadi harus bekerja supaya bisa sekolah. Saat aku dan kedua abangku ketemu di bangku kuliah bertiga, 2 orang perguruan tinggi swasta dan 1 orang negeri aku sampai memutar otak gimana bapak bisa menyekolahkan kami bertiga dengan gaji seorang PNS yang belum ada sertifikasi ketika itu. Yang orang tuanya PNS mungkin bisa bantu berhitung juga. Dan nyatanya memang harus ada perkerjaan sampingan. Dan sebagai anak harus tau diri. Selama masih bernapas intinya tetap bekerja. Mengusahakan dan mengerjakan semuanya yang penting halal. Jangan masih muda berasa tua tapi yang tua tetap berasa muda. Kalo ngga kerja, yah ngga makan.

Beberapa kali saat aku jual pakai gerobak dorong yang sebelumnya aku bilang tak jarang ketemu sama guru-guruku. Pertama aku malu dan kemudian beberapa dari guruku bilang, “Salut bapak samamu Ennitan”. Aku cuma tersenyum dan kemudian melanjutkan perjalananku lagi sambil berharap besoknya ngga ketemu lagi. wkwkwkwkwk .

“Dang adong artaku na lao silehononku tu hamu, holan pasikkolahon hamu do boi hubaen. Jadi burju-burju hamu marsikkola”

(Bapak tidak punya harta yang bisa kuberikan untuk kalian, cuma menyekolahkan kalian yang mampu aku lakukan. Jadi baik-baiklah kalian sekolah :edited)

Mamak selalu nambahin.

“Boto magom”

(Tahu diri kau :edited)

Aku kurang tau menerjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tapi artinya sangat dalam, coba tanya sama orang Batak di sebelah masing-masing. πŸ˜€

Setelah sekarang, aku semakin paham kenapa dulu kami ngga dikasih kebebasan nonton, ngga dikasih uang jajan terus-terusan dan dibawa ke sawah. Aku udah tau semuanya pah. Aku semakin mengerti kalau aku ngga akan seperti sekarang kalo ngga mengalami semuanya dari kecil. Semua anak-anak bapak bisa sekolah semua dengan perjuangan yang kita lakukan semua satu keluarga. Mauliate bapah. Dan mauliate untuk partnernya bapak selama ini, mamak yang berjuang bersama bapak.

Tetap sehat dan makin bahagia pah sama mamak.

Bapak, guru paling hebat yang akan selalu menjadi tiruanku. Semoga apa yang bapak ajarkan bisa aku terapkan, minimal di dalam keluargaku nanti.

Masa pensiun akan menjadi lembaran baru untuk bapak apalagi sampai pada hari pensiun yang membahagiakan dengan sehat. Masa untuk mengevaluasi semua apa yang sudah dilakukan dan ditanam. Masa menjalani dan mengelola hidup yang lebih sehat dan bahagia.Β Dan membesarkan kehidupan diri dengan Tuhan. Semoga bapak selalu sehat-sehat. Lepas sudah semua beban dan tanggung jawab dalam rutinitas pekerjaan sehari-hari. Semoga semakin banyak bapak Karokaro muda yang bisa menjadi guru panutan banyak orang.

Oh iya kalau masih ada yang penasaran kenapa tulisanku rapi itu menurun dari bapak. Dari kecil aku suka baca buku-buku bapak dan meniru tulisan tegak bersambung bapak. Kalau kamu liat tulisan bapak, tulisanku masih kalah jauh. πŸ˜€

Note : semua foto edisi saat hari pernikahan kemarin karna bapak jarang foto. πŸ™‚


About author

borukaro

Anak Pulau Samosir yang terdampar di Ibukota Negara. NM dari DEL. Anggap saja anak IT abal-abal yang suka nulis. Paling suka jalan dan makan, nonton, tidur dan koleksi film

Gunung Papandayan

Istri Idaman

[caption id="attachment_2820" align="aligncenter" ...

Read more
Saksang Khas Batak by borukaro

Resep dan Cara Memasak Saksang B2 Sederhana Khas Batak

Ini adalah postingan ketiga yang aku tulis tentang...

Read more
Prewedding

Undangan Pernikahan Digital

Okey, setelah hampir 1 bulan kreatifitasku berubah...

Read more

There are 11 comments

  • Irvan says:

    Luar biasa bapak on akh.. .Sehat selalu pak

  • arni nainggolan says:

    Msih ada yang kurang kak…
    Kalau bapak lihat murid perempuan memakai kutek atau hatirongga, bapak pastu bilang ‘hapus i, songondiape carana ikkon boi ias i’ sampai di gosok k lantai tangannya…
    Aku sih nggak pernah di hukum sama bapak , tapi temen -temen sering…
    Aku pernah kena juga sama aturan bapak, yang mana kalau jajan gak boleh bawa sampah ke dalam lingkungan sekolah kecuali minuman (aqua)…
    Bell berbunyi (istirahat 1 atau 2) pak SK udah siap siaga di depan gerbang…
    Ada yang bawa kerupuk, permen atau yang lain pasti pak SK suruh buka isinya dan sampahnya di suruh buang d tempat sampah..
    Hahahahahahhaha ( aku pernah kak soalnya kerupuk casper dan borobudur, d taruh di tangan semua kak)
    Emang displin bapak jempoL deh…

    • borukaro says:

      banyak yang ngalamin ini juga, pernah ada yang nitip kerupuk. jadinya kerupuk titipan dibawa mulai dari gerbang karna plastiknya udah dibuang di depan gerbang πŸ˜€

  • Jefri Juna says:

    Aku bangga kepada bapak karo2 sebagai guru yang pernah mengajar aku tentang disiplin. Aku salut pak, kangen sama bapak lah pokoknya. Dulu aku sama temen satu kelas cabut dari sekolah trus goblok nya kita nongkrong di depan STM 1 Ambarita dan gk lama kemudian bersender lah kreta (motor) pak karo2 dan kami pun tercyduk setelah itu kami langsung di proses di ruangan BP dan harus menandatangani Surat Peringatan. Itu kenangan yang memalukan saya pikir pak tapi saya banggga sama bapak dan saya tidak dapat melupakan kisah itu.
    Bapak inspirasi ku ..
    Doa ku agar bapak sehat selalu dan panjang umur. Amin!

  • Friska says:

    Selamat menjalani masa pensiun guruku yang baik hati, kiranya diberi kesehatan dan semakin diberkati. masih ingat aku pernah disuruh berdiri di atas meja sama semua teman sekelas karna ga bisa menjawab pertanyaan yang jawabannya sebenarnya ada di buku

    • borukaro says:

      akhirnya ada juga kudengar cerita langsung yang pernah dihukum berdiri di atas meja. πŸ˜€
      kalau dulu masih mendengar cerita aja. Separah-parahnya masih dihukum di pojokan, Brarti toho do hape kisah on. πŸ˜€

  • Sintia teresa sidabutar says:

    Selamat menjalani masa pensiun pak
    Terima kasih udah jadi guru pkn yang terbaik dan terkiller
    Semoga panjang umur terus ya pak
    Masih ingat kalau sering terlambat dulu pasti diledekin “ehe boru sidabutar holan na tarlabat do ho”

  • cumicumi says:

    Selamat menjalani masa pensiun tulang…
    Terima kasih sudah menjadi guru yang baik walaupun aku gak muridnya…
    Jangan sedih bilang ya dak…
    Karena pasti ada rasa sedihnya… aku yakin…
    Semangat kita membahagiakan orang tua kita yaaaa….
    God bless everything!

  • Leave a Reply