Daily Life
Istri Idaman
April 20, 2018
0
,

Bekal MrMrsTampubolon

Aku tertawa ketika salah seorang follower di ig mengatakan unggahan masakan yang selalu aku buat di instastory menaikkan standard untuk mencari seorang istri. Dan aku hanya tertawa mendengar pernyataannya. Apakah memang salah satu kriteria istri idaman adalah bisa masak?

Jika diingat kembali, setelah mulai bekerja aku memutuskan untuk selalu mencari kontrakan yang bisa memasak. Minimal bisa masak nasi dan ikan. Dan untungnya saja aku selalu dapat kontrakan seperti ini. Separah-parahnya, aku ambil catering yang dimasak sendiri sama ibu kos, jadi aku yakin kalau yang aku makan itu sehat. Karna setiap aku makan di luar, hampir 80% selalu diare, sampe pernah kejadian 2 kali ke dokter karna salah makan dan selalu disarankan untuk masak sendiri. Itu salah satu reason mengapa aku selalu masak.

Dari SD kelas 3 aku udh masak di rumah, karna aku anak perempuan pertama. Seakan memasak adalah sebuah tanggung jawab. Karena dari dulu mamak harus jaga kios souvenier nya sampe sore. Secara ngga langsung aku pun harus belajar. Awalnya cuma liat-liat mamak buat bumbunya. Aku mulai memasak nasi di periuk dengan kompor sumbu.

Oh iya masakan pertamaku dulu adalah telur ayam kampung, aku masukin ke kuali dan mencoba membalikkan telur ternyata malah lengket di sendok goreng. Mulai panik karna semua lengket di sendok. Saking takutnya aku angkat dan langsung cuci karna udh gosong. Kemudian aku ingat kalau aku belum tuang minyak goreng. 😀
Walaupun ngga jago-jago masak, tapi untuk kebutuhan sehari-hari sudah harus aku kerjakan di rumah. Kalau untuk masakan yang ribet berbahan dasar daging biasanya mamak yang masak, apalagi kalau ada keluarga yang berkunjung ke rumah.

Menuju SMA, udh hampir semua tanggung jawab memasak dilimpahkan padaku. Mamak cuma ngasih instruksi bumbu apa saja yang digunakan. Sampai aku masuk pada tahap harus lulus potong ayam kampung sendiri. Dan ini sudah aku lakukan sejak SMA dan kuliah bahkan jika aku balik dari asrama. Karna katanya potong ayam penting untuk masakan tertentu karena perlu untuk ambil darahnya seperti membuat napinadar. Jadi alangkah baiknya potong sendiri. Ini….katanya. Ya kalo di perantauan ini, udah ada yang lebih instan, yaitu beli ayam potong. Walaupun memang harus diakui ayam kampung lebih nikmat.

Taulah mamak-mamak Batak, pasti selalu dibilang gini kalo anaknya ngga bisa masak “So panurakon annon ho di jabu ni simatuam“. Bahasa Indo nya kira-kira “Jangan nanti sampe bikin malu di rumah mertua“. Aku selalu kurang suka setiap mendengar kalimat itu. Seakan aku masak untuk ambil hati orang lain. Aku ingin melakukan semuanya karena AKU MAU dan AKU SUKA. Itu perasaan yang aku rasakan ketika itu.

Sampai akhirnya sebelum menikah mamak tanya, “Nanti kalo udh nikah bisanya kau masak untuk si tampu itu? Sempatnya? Jangan nanti makin cinta sama ibu-ibu kede dia karna selalu dimasakin yang enak-enak.” (kede bahasa lain untuk warteg/kedai) . Aku hanya jawab, “Iyalah mak, ibu-ibu kede kan dibayar
Kemudian kami tertawa bersama, karna ini lelucon biasa di kampung jika keluarga lebih memilih makan di luar daripada di rumah sendiri.

Aku masih mengusahakan untuk selalu masak, mumpung masih tinggal di Jakarta. Pernah capek? Ya tentu saja. Bang Sabar sampe minta ampun bangunin di pagi hari. Apalagi kalau hari sebelumnya udh pulang malam dari kantor dan macet di jalan. Boro-boro masak, bangun untuk masuk kantor aja kadang malas.

Untungnya bang Sabar ngga mengkek (banyak gaya/banyak maunya) soal makanan. Enaknya menikah sama lelaki ini, kami hampir menikmati semua makanan apapun, kecuali makanan yang dicampur tauco. Dia ngga suka. Dia makan semuanya dan ngga banyak komentar harus ini itu. Yang penting lengkap nasi, sayur dan lauk. Kalau ada yang kurang baru disampaikan, dan bukan sebagai komentator masakan. Lebih ke menyampaikan apa yang kurang. Dan belum pernah sekalipun masakanku ngga dimakan. Im happy, yeay. Aku bahagia ketika bang Sabar makan lahap semua yang aku masak.

Arsik b2 khas Batak

Sekarang aku selalu bersyukur dari dulu udah diajarin pegang kuali sama mamak. Dan bahkan aku masih sering nanya resep-resep masakan ke mamak. Karna masakan mamak selalu yang terenak. Sampe mamak trus bilang, “Ai torus lupa, hera naso niajaran“. Bahasa Indo nya ,”Trus lupa, seperti belum pernah diajarin“. Tapi tetap aja aku tanya lagi.

Motto utama istri, sehat dan hemat 😀 . Jadi harus masak. Dan saat istri masak jangan diatur-atur. Karna di dapur ngga akan bisa dikemudikan 2 nakhoda. Bisa-bisa ngga jadi masak. Kalau satu masak, satu cari aktivitas lain aja. Kecuali diminta untuk icip-icip. Dan kebetulan kami berdua orangnya sama, kalo udh masak jangan diganggu. Biar lebih cepat.

Jadi, apakah salah satu kriteria istri idaman itu harus jago masak? Mungkin lebih tepat dijawab laki-laki. Karna buatku sendiri perempuan itu ngga harus duduk manis di dapur lagi. Apalagi suami istri sama-sama bekerja. Tradisi zaman dulu bisa agak disingkirkan sedikit. Kecuali si istri mungkin stay di rumah ya wajar. Tapi kalau pun di rumah dan berduit, ya tinggal beli.

Udah dimasakin tapi langsung dikomentari bak chef jangan harap besoknya akan dimasakin lagi. Intinya saling menghargai. Kalau butuh orang yang bisa masak enak, cari juru masak, bukan cari istri. Yakinlah, kalau ada yang rela-relain memasak sesuatu untukmu, itu pasti udh pake hati. *ceilehhh. Siapa yang memasak? Bisa keduanya. Biar jadi hela dan parumaen idaman.

Oh iya ini ada beberapa pertanyaan yg ditanyakan juga padaku. Sekaligus aku jawab disini juga yah.

Q : Masak berapa lama?

A : Biasanya 1-1.5 jam. Bangun jam 7 pagi kelar jam 8.15 atau 8.30. Udah lengkap nasi, lauk, sayur. Krn kompor yang 2 tungku, jadi langsung multitasking. Pakai satu untuk lauk, satu untuk sayur.

 

Q : Pernah gagal masak nggak?

A : Pernah, langsung dibuang saat masak sayur pakai santan. Lupa cium aroma santannya ternyata sedikit beraroma basi dan tetap maksa dicampur ke sayur dan makin ngga enak baunya. Dan untuk buat kue hampir semua masih failed. 😀

 

Q : Yang gemuk kok malah yang masak, yang dimasakin malah makin langsing?

A : Bang Sabar bahagia udah ada yg atur pola makannya. Biasanya dia bebas makan ini itu, sekarang nggak bisa lagi. Selain itu dia ke kantor naik busway dan naik kereta. Belakangan jd makin banyak gerak dibanding aku. Jadi jangan tanya lagi yess kenapa dia lebih kurus. Diam-diam gemuk itu nular, gemuknya bang Sabar nular ke aku.

 

 


About author

borukaro

Anak Pulau Samosir yang terdampar di Ibukota Negara. NM dari DEL. Anggap saja anak IT abal-abal yang suka nulis. Paling suka jalan dan makan, nonton, tidur dan koleksi film

Saksang Khas Batak by borukaro

Resep dan Cara Memasak Saksang B2 Sederhana Khas Batak

Ini adalah postingan ketiga yang aku tulis tentang...

Read more
Prewedding

Undangan Pernikahan Digital

Okey, setelah hampir 1 bulan kreatifitasku berubah...

Read more
Ring box

Ribetnya Mengurus Pencatatan Sipil di Balige

Aku paling paling ngga suka kalau misal diribetkan...

Read more

There is no comment

Leave a Reply